Hari ini cerah meskipun matahari tersembunyi di balik gumpalan awan yang memenuhi hampir seluruh langit. Dan dibumi yang semakin gersang, angin semakin sulit berbisik. Dahulu, ia bisa menyampaikan salam sepasang kekasih lewat bisikannya dengan bunga dan dedauanan. Namun,kini ia hanya bisa berdansa dengan debu dan udara panas.
Apakah kamu bahagia hari ini? Dengan kecukupan udara untuk membantumu bernapas, dengan kehadiran orang-orang yang menyayangi dirimu tanpa pamrih, dengan lindungan tuhan yang menjaga langkahmu setiap hari. Aku tahu kau bahagia karna kebahagiaan sebenarnya begitu sederhana. Tapi, apakah kau bahagia dalam kebersamaan dirimu denganku ??
Setiap aku memandang senyum difotomu, aku melihat kebebasan terpancar disinar matamu. Bebas tak terikat, kau menjelajah sesuka hati. Satu per satu teman dan sahabat menambatkan perahu mereka dan berhenti tepat didepan mu, sementara sekarang kamu masih bermain dengan tanah,ombak dan matahari bersamaku. Tidak terpikirkankah olehmu, bahwa banyak hal yang sedang menunggumu berlabuh ?. Tidak adakah keinginan untuk melalui semua petualangan itu dengan indah ??
Terkadang aku menyesali kenapa itik buruk rupa sepertiku menginginkan elang yang terbang gagah dengan lemah, untuk bisa berada disisiku selamanya. Aku sadar kamu tidak pernah merendahkanku, tetapi segala keterbatasanku menghalangiku untuk tetap bersamamu. Kisah cintaku memang hanya mengulang jutaan kisah cinta yang terjadi didunia. Aku menyadari perasaanku justru setelah kita mencoba berpisah. Alangkah rumitnya manusia, hanya untuk mengekspresikan kasih sayang saja harus melalui banyak tahap dalam pikiran. Terkadang hal ini menyiksa diri dengan diam dan menyerah, bertanya-tanya dimanakah keberanian akan ditemukan. Sering juga aku menyangsikan bahwa gelombang perasaan yang menderaku ini adalah cinta. Benarkah aku mencintaimu ? lalu, dimana rasa ini bersembunyi pada waktu pertama kali kita bertemu ?. Sekarang tidak ada rindu ingin bertemu, tidak ada debaran keras jantung saat melihatmu tersenyum, bahkan, tidak aku temukan hadirmu dalam mimpi-mimpiku.
Semua kenangan bersamamu memang sangat berharga. Aku mencoba mencari jejakmu yang hampir hilang dilapis waktu. Setitik kecil tulisan, sepetak gambar foto, sepotong demi sepotong ingatan tentang kata-kata yang pernah kamu ucapkan, senyum yang pernah kamu berikan, bahkan ejekan dan godaanmu kukumpulkan kembali. Semakin jelas kenangan itu terbentuk, semakin aku sadar bahwa dibalik segala kehebatanmu,kau begitu apa adanya. tidak ada kata-kata berlebihan, tidak ada ekspresi palsu. Perhatianmu padaku pun bukanlah sikap yang dibuat-buat. Mungkin semua itu tersimpan dan mengendap dalam pikiranku begitu lama sehingga aku tidak menyadarinya. Dan ketika memori itu tiba-tiba mengapung ke permukaan, aku seolah-olah terbangun dan tersentak bahwa aku membutuhkan seseorang sepertimu dalam hidupku.
Aku lebih suka waktu mengalir apa adanya. Terkadang, ia seperti berlari begitu cepat hingga tidak terasa usia semakin merangkak tua. Namu, saat memikirkanmu, waktu seolah-olah bergerak lambat dan enggan beranjak hingga sepi terasa mendera lebih lama. Tapi, disatu titik waktu, takdir akan berbicara tentang kita, memberi tahu keputusan yang telah dibuat-nya, jauh sebelum kita dilahirkan. Apakah aku dibuat dari tulang rusukmu ?? jika tidak, apakah perjumpaan kita akan membawa hikmah yang lebih bermakna ??
Jika Tuhan mengizinkan, apa pun bisa terjadi bukan ??? :)
Sabtu, 23 April 2011
Kamis, 21 April 2011
Teriak dalam Diam
Diri ini berharap, ketika dirimu telah membaca ini, rasa itu akan berubah menjadi lebih baik. Karena, sejujurnya, diri ini masih mengharapkan dirimu untuk mencintai diri ini. Entah mulai kapan diri ini menaruh rasa istimewa itu terhadap dirimu. Segala sesuatunya mengalir begitu saja, bahkan panggung sandiwara dunia pun mendukung. Ia selalu meminta kita untuk memainkan lakon kehidupan yang bersamaan. Karena itu, mau atau tidak, diri ini selalu terikat dengan dirimu.
Disaat diri ini semakin dalam mencintaimu dirimu, disaat yang sama pula diri ini merasakan bahwa dirimu seakan-akan terus menjauh. Dan, itu tampak jelas dari perilakumu, bahkan komunikasi diantara kita hampir seperti tidak ada lagi yang baik. Karena itulah, rasa itu terus saja diri ini pendam sendirian. Tiada terasa, waktu yang berjalan telah cukup lama. Hingga, tanpa diri ini sadari, ternyata sudah begitu lama pula hari-hari diri ini lalui dengan tangisan. Dan, tangis itu selalu pecah di saat diri ini merindukanmu, di saat dirimu tidak memperdulikan adanya diri ini. Bahkan tangisan yang mengharapkan dirimu mengerti apa yang diri ini rasakan terhadapmu. Tak banyak yang dapat diri ini lakukan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Ada jarak yang semakin lebar membentang. Dan, batas diantara kita berdua untuk saling berkomunikasi tampak jelas. Jujur, diri ini semakin tersiksa karna keadaan yang demikian. Kemudian, timbul keberanian dari diri untuk mengutarakannya kepada dirimu. Awalnya diri ini ragu. Namun, hati ini seakan-akan tidak sepaham dengan pikiran yang sat itu masih menganggap hal itu tidak sepatutnya dilakukan.
Keputusan besar telah aku ambil. Akhirnya, diri ini mengungkapkan relung hati . Meski itu terkesan implisit, diri ini yakin bahwa tujuan dari pesan singkat itu dapat kau tangkap. Tanpa sadar bulir-bulir air mata terus mengalir. Diri ini tidak sanggup lagi untuk membendungnya. Sekujur tubuh terasa lemas, gontai tak bertuan hingga diri ini pun merasakan kehampaan dalam hidup. Dan, hingga kini, kata demi kata itu masih tersimpan dengan baik dalam memory diri.
Langganan:
Komentar (Atom)

