Bipolar..
Terdengar asik diucap seperti sebuah lelucon guna sebutan untuk sebuah candaan.
Syukurlah Bipolar menjalar didalam nadiku hingga ketulang sumsumku.
Sedikit gila stadium satu bisa aku rasakan.
Entah kesusahan apa lagi yang menjalar, padahal aku baru tidur 4 jam.
Aku merasa bersalah baru menyadari kau ada didalam hidupku.
Tak apa yaa, kita berteman saja, jangan terlalu dekat.
Aku tidak mau terlalu cepat dipanggil malaikat dengan cara yang laknat.
Bagiku kau sahabat yang setia tapi jahat
Ah sudahlah, aku tidak mau menyalahkanmu terlalu banyak
Aku kan juga jarang solat.
Bila aku nanti mati konyol.
Satu-satu nya yang akan aku salahkan yaitu dirimu.
Kau yang memberikanku kebahagiaan, kau juga yang memberikanku keterpurukan.
Syukurlah hanya titik jarum yang kutaruh, setengguk pembersih luka, dan menangis yang sengaja aku hitung dengan stopwatch.
Hingga kantuk mengucapkan selamat datang.
Paling tidak aku sudah merasakan dan orang lain belum.
Terpenting, aku beruntung tidak dipanggil dengan cara yang laknat.
Jelas saja Pacarku pernah mengatakan ini padaku "kamu kan rada-rada" dan "polos sama bodoh itu beda tipis".
Mataku sudah cukup perih menangis dan melihat stopwatch.
Sampai kapan perasaanku redam..
Sampai kapan kebahagiaanku natural..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apapun tanggapan kalian tentang cerita saya,saya terima dengan senang hati. thankyou :)