Senin, 12 November 2012

SEKIAN


Suatu sore di sebuah warung bakso, Dika dan Dena duduk saling berhadapan. Di atas meja di hadapan mereka terdapat botol saos, tempat tisu, dan sebuah toples kecil yang isinya sambel cabai.
Dika menatap Dena dengan penuh nanar, Dena tertunduk diam seperti tidak ingin melihat wajah Dika.
Dengan nada yang cukup berat dan pelan, Dika memulai pembicaraan.

Dika : Maafin aku.

Dena tidak merespon, masih tetap tertunduk.

Dika : Aku tahu, aku salah, semua ini terjadi begitu saja, aku minta maaf semaaf-maafnya.

Dena melihat ke wajah Dika, namun ia lekas menundukan kepalanya kembali.

Dika : Sekarang aku pasrah, aku bebasin kamu kalo mau marah ya silahkan, kamu mau ninggalin aku silahkan juga.

Dena merespon dengan senyum tipis, sembari mengambil tisu yang ada di hadapannya, dan menggulung-gulungkannya.

Dika: Saat melakukan itu, aku inget kamu, tetapi godaan lebih besar untuk aku tidak mengingat kamu.

Dena pun sekejap terdiam, tangannya yang sedang menggulung tisu pun berhenti, dan menatap tajam ke arah Dika.

Dika : Aku saat itu memang sangat membutuhkan seseorang, dan kamu jauh, jadi aku minta tolong orang lain, dan semua itu terjadi begitu saja tidak ada cinta diantara kita, hanya karena aku lelaki dan dia wanita…

Tukang bakso memotong pembicaraan Dika

Tukang Bakso : Tadi bakso urat dua porsi ya, teh manis dua ya, ini, silahkan. (Tersenyum)
 
Dika: Makasih ya, bang.

Tukang bakso pun pergi kembali ke dapur, Dika menghentikan sejenak pembicaraan untuk menyantap bakso. Dena sudah memalingkan pandangannya, kini ia tertunduk kembali sembari menyantap bakso.
Mereka menyantap bakso dengan pandangan kosong. Tidak sampai habis, Dika melanjutkan pembicaraannya.

Dika : Aku tidak tahu, kata apa selain ‘maaf’ yang harus aku ucapkan saat ini.

Dena sehabis menyuap bakso yang tidak sampai habis, meminggirkan mangkok baksonya, ia minum, dan mengambil tisu untuk mengelap mulutunya, dan tertunduk kembali.

Dika : Sekarang, aku ingin kamu ungkapin semua perasaan kesal kamu ke aku.

Kembali Dena menatap Dika dengan pandangan tajam dan sayu.

Dika: Apa masih ada maaf yang tersisa untuk aku? (tanya Dika)

Dena memandang Dika dengan tatapan kosong. Bibirnya bergerak seakan ingin berbicara namun tak kuasa. 
Dengan pasti, ia berkata.

Dena : Kamu tidak perlu meminta maaf, kamu tidak perlu merasa bersalah, karena akupun begitu. 

Selasa, 09 Oktober 2012

Merekonstruksi Hati

Saat ini kita tanpa kata, tapi mata kita bicara..
Tanpa disadari, kita selalu membicarakan pulang dan kembali hanya agar bisa bertemu lagi..
Terlarut aku dengan singkat menganggapmu tujuan, semoga kamu tidak menjadikanku cobaan..
Aku hanya takut dan terus berfikir, semoga yang aku kira cinta bukan hanyalah suka, sayang, perhatian dan penasaran yang kebablasan..
Sudahlah, perbedaan pikiran kita tidak perlu menjadi jurang dan alasan, kita hanya perlu saling mengiyakan dan memperjuangkan..
Akupun tidak yakin bisa meninggalkan perasaan ini, Tuhan dan waktu sudah menunjukan siapa kamu..
Aku mohon, berhenti berfikir bahwa perjalanan memang lebih penting daripada tujuan..
Karna tidak ada yang perlu dimulai dari cinta yang ragu-ragu..
Tuhan telah mempertemukan kemudian menggelisahkan kita, pasti ada maksudnya..
Jika nanti ada kekecewaan hasil dari pengharapan, jangan salahkan keadaan..
Karna pada akhirnya kita hanya keabadian dalam ketidakabadian..

Rabu, 29 Agustus 2012

Skenario Tuhan

Karena aku yakin
Ada beberapa hal yang lebih baik dituliskan daripada aku katakan
Mungkin kamu sudah tahu, setidaknya mengira-ngira.
Saya pernah menyayangi kamu segila itu.
Tapi situasinya tidak seperti yang saya bayangkan.
Semua bagian hati saya masih berisi kamu.
Tapi otak saya bilang jangan.
Prinsip saya sudah jelas.
Saya nggak akan berdiri diam di depan pintu yang tertutup.
Saya rasa kamu mengerti.
Jadi sebaiknya kita tetap begini saja.
Entah sampai kapan.
Mungkin sampai salah satu dari kita berdua lupa

Selasa, 07 Agustus 2012

Kau Tidak Lagi Berada di Tempat Kita Dahulu


Bila tak ada terucap
Maka harus kusudahi segala harap
Mungkin terlihat norak
Ataupun bagai kerak yang tak kunjung pulih

Seandainya pertanyaan yang kau tanyakan
Maka itu semua adalah tentangmu
Tak ada alasan apapun
Hanya kamu
Yang kuanggap sebagai dirimu
Yang benar-benar utuh

Bila kau anggap aku membual
Maka sepantasnya untukku
Yang berakhir dalam mual

Dan bila tak ada pagi
Maka pun jua malam sebagai sesuatu yang nyata

Remang, hanya dalam semu
Untukku menjadikan segala nyata
Bilakah aku harus pergi
Demi mencari dunia imajiner

Harus kuanggap ada janur kuning
Melebihi bendera kuning
Untuk merelakan dirimu yang tak bisa kugapai

Kadang aku terlalu menganggap dirimu spesial
Tanpa memandang diriku yang masih remeh temeh

Akankah ini pantas
Yang didapat dari seorang imajiner
Di tengah sesuatu yang visioner

Kalaupun tidak
Haruskah aku menjadi seorang yang sakit
Dalam kesehatan yang sempurna


Minggu, 05 Agustus 2012

MANIC - DEPRESSIVE

Bipolar..
Terdengar asik diucap seperti sebuah lelucon guna sebutan untuk sebuah candaan.
Syukurlah Bipolar menjalar didalam nadiku hingga ketulang sumsumku.
Sedikit gila stadium satu bisa aku rasakan.
Entah kesusahan apa lagi yang menjalar, padahal aku baru tidur 4 jam.

Aku merasa bersalah baru menyadari kau ada didalam hidupku.
Tak apa yaa, kita berteman saja, jangan terlalu dekat.
Aku tidak mau terlalu cepat dipanggil malaikat dengan cara yang laknat.

Bagiku kau sahabat yang setia tapi jahat
Ah sudahlah, aku tidak mau menyalahkanmu terlalu banyak
Aku kan juga jarang solat.

Bila aku nanti mati konyol.
Satu-satu nya yang akan aku salahkan yaitu dirimu.
Kau yang memberikanku kebahagiaan, kau juga yang memberikanku keterpurukan.

Syukurlah hanya titik jarum yang kutaruh, setengguk pembersih luka, dan menangis yang sengaja aku hitung dengan stopwatch.
Hingga kantuk mengucapkan selamat datang.
Paling tidak aku sudah merasakan dan orang lain belum.
Terpenting, aku beruntung tidak dipanggil dengan cara yang laknat.

Jelas saja Pacarku pernah mengatakan ini padaku "kamu kan rada-rada" dan "polos sama bodoh itu beda tipis".
Mataku sudah cukup perih menangis dan melihat stopwatch.
Sampai kapan perasaanku redam..
Sampai kapan kebahagiaanku natural..

Jumat, 27 Juli 2012

Kuku-Ku


Kukuku sudah mulai panjang Mama..
Ini yang kadang menjadikan kita saling bertengkar

Ketika aku mengelus wajahmu
Kau menganggap aku mencakarmu

Ketika aku memelukmu
Kau menganggap aku menusukmu dari belakang

Ketika aku menggenggam tanganmu
Kau menganggap aku sedang menyayat nadimu

Tanpa Mama sadari
Perbuatanmu itu yang menyebabkan kukuku semakin panjang